BERITA

  • Supaat, Kepala SMAN 1 Lawang Penggagas Gerakan Literasi. Setahun Terbitkan Lima Buku Karya Siswa

    Supaat, Kepala SMAN 1 Lawang Penggagas Gerakan Literasi. Setahun Terbitkan Lima Buku Karya Siswa

    Sosok kepala sekolah seperti Supaat ini, mungkin tak banyak di Malang Raya. Di sekolah mana pun yang dia pimpin, Supaat selalu getol menularkan budaya literasi kepada para siswanya. Bahkan, dalam dua tahun ini atau sejak 2015 lalu, sudah ada lima buku yang ditulis siswa-siswi SMAN 1 Lawang.

     

    DAVIQ UMAR AL FARUQ

    Ekspresi penuh kebanggaan terpancar dari wajah Supaat, saat menunjukkan lima buku kepada wartawan koran ini, di ruang meeting SMAN 1 Lawang (Smanela), Kamis siang lalu (19/1). Lima buku itu berjudul Bara Dupa, Nyanyian di Kolam Anggur, The Miracle of Dream, Pembawa Buku Takdir, dan Anekdot Anti Humor.

    Tiga judul yang disebut di awal itu merupakan buku antologi (kumpulan) cerpen. Sementara dua lainnya adalah antologi puisi (Pembawa Buku Takdir) dan antologi humor (Anekdot Anti Humor).

    Tiap buku rata-rata merupakan kumpulan tulisan dari lima orang penulis. Dan penulisnya adalah siswa-siswi Smanela–sebutan SMAN 1 Lawang. ”Tiga buku antologi cerpen itu kumpulan karya siswa-siswi kelas X, XI, dan XII. Satu buku antologi puisi itu kumpulan karya seluruh kelas. Sedangkan satu buku antologi humor merupakan karya siswa dari tiga kelas,” jelas warga Perumahan Sawojajar, Kecamatan Kedungkandang ini.

    Lima buku karya siswa itu diterbitkan sendiri oleh Smanela. Lebih tepatnya oleh Smanela Press. Kelima buku itu juga sudah memiliki International Series Book Number (ISBN).

    Buku yang masing-masing dibanderol Rp 35 ribu itu di-launching pada acara Festival Literasi di Smanela, 2–3 November 2016. Festival itu dihadiri Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Malang serta perwakilan dari SMP-SMA se-Kabupaten Malang. Tak hanya itu saja, Festival Literasi juga dihadiri penulis buku best seller bertema sufisme, Agus Mustofa.

    Bahkan, lewat acara itu, banyak sekolah yang ingin meniru apa yang sudah dilakukan SMANELA. ”SMA-SMA di Kepanjen, Ngantang, Turen, hingga Pagak mulai mencontoh sistem perpustakaan kelas kami,” kata mantan kepala SMAN 1 Pagak tersebut.

    Perpustakaan kelas? Ya, bisa dibilang, sebelum mulai menulis dan menerbitkan buku, Supaat lebih dulu ’memperbaiki’ minat membaca para siswa. Sejak dipercaya menjadi kepala SMANELA, 2015 lalu, Supaat ingin membiasakan  mereka membaca buku.

    Kampanye literasi itu dipertajam lagi pada ajaran 2016/2017. Supaat menggagas Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di Smanela.  ”Lewat gerakan itu, siswa-siswi dibiasakan membaca buku nonpelajaran selama 15 menit sebelum memulai pelajaran,” ujar pria kelahiran Lamongan, 59 tahun silam ini.

    Untuk menjalankan program itu, Smanela juga mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat. Ada bantuan dana sebesar Rp 110 juta yang diterima SMANELA.  ”Di seluruh Indonesia hanya 76 sekolah yang mendapatkan bantuan tersebut, di Jawa Timur terdapat enam sekolah dan Malang Raya hanya SMAN 1 Lawang saja,” papar alumnus IKIP Malang ini.

    Smanela memanfaatkan dana bantuan dari pemerintah pusat untuk membuat perpustakaan mini. Total, ada sepuluh Pojok Buku–sebutan untuk perpustakaan mini di Smanela. Lokasinya ada di titik-titik strategis. Mulai dari lorong-lorong hingga kantin sekolah.

    Tiap Pojok Buku berisi 40 koleksi buku. Pojok Buku itu melengkapi perpustakaan sekolah dan perpustakaan di masing-masing kelas. Jadi, bisa dibilang, ke mana pun siswa-siswi melangkah di sekolah, pasti ada perpustakaan dan buku yang mereka jumpai.

    Dengan cara itulah, sekolah merangsang para siswanya untuk mau membiasakan diri membaca buku. Setelah terbiasa membaca buku, maka mereka bisa naik ke level berikutnya…yakni menjadi penulis.

    Setiap hari, setelah membaca buku selama 15 menit, mereka diminta untuk menulis kembali apa yang dibaca. ”Kami meminta untuk membuat resensi. Bisa juga kritik terhadap buku yang telah dibaca,” ujar bapak lima anak ini. Dari situlah, kemampuan menulis para siswa terasah.

    Supaat menyatakan, sekolah kemudian membuat semacam lomba menulis buku. ”Siswa-siswi kami minta untuk mengirimkan karyanya, bisa berupa cerpen maupun puisi. Karya mereka kemudian disaring. Hasilnya, tentu kami bukukan,” jelas Supaat.

    Dia berharap, ada lebih banyak buku lagi, karya para siswa yang bisa diterbitkan Smanela Press. ”Setiap upaya yang saya lakukan ini untuk memotivasi  mereka agar bisa membuat buku sendiri dan lebih mencintai buku,” pungkas mantan kepala SMKN 1 Pujon ini.

    Sistem Gerakan Literasi Sekolah kelihatannya begitu simpel. Tapi, jelas butuh orang yang cinta literasi seperti Supaat. Bagi Supaat, kegiatan literasi tak hanya dilakukan dalam 2–3 tahun ini. Tapi hampir di sebagian umurnya.

    Sejak masih kuliah, Supaat sudah rajin menulis. Karya tulisannya sering dimuat surat kabar nasional. ”Mulai Jawa Pos, Suara Indonesia, Sinar Harapan, dan masih banyak lainnya,” kata pria yang punya nama pena Supaat A. Latief ini.

    Hingga kini, Supaat juga sudah menulis delapan buku. Di antaranya, buku kumpulan analisis sastra berjudul Tegak Lurus Dengan Langit; buku novel berjudul Delusi; dan Perahu Waktu, Sastra Eksistensialisme Mistisme Religius, hingga Psikologi Fenomenologi.

    Semua buku-buku itu dia tulis di sela-sela kesibukannya sebagai kepala sekolah. Supaat bertekad untuk terus menulis buku. Saat pensiun nanti, mungkin ada lebih banyak buku yang bakal ditulis Supaat. Kita tunggu saja… (*/c2/muf)

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks